Kepergian Ibu

by - 8:41 AM


Harus kutinggalkan sejenak dirinya
Untuk kembali mengabdikan diri pada keadaan
yang mengharuskan aku melakukan ini semua
Meninggalkan ibu juga orang-orang yang kusayang
Ya Rabb kuatkan hambaMu yang lemah ini
               
              Aku menitikkan air mata membaca kalimat-kalimat yang ku tulis sendiri itu. Yah, aku memang harus melakukannya. Sesulit apapun itu aku harus berani mengambil keputusan ini. Agar tak ada kata terlambat di kemudian hari. Kuselipkan lembaran kertas itu dalam buku catatan harianku. Aku beranjak dari tempat tidurku dan melangkah ke luar rumah menuju serambi depan. Aku duduk termenung sendiri. Batinku perih. Rasanya aku tak ingin meninggalkan ibu dan Syifa....
                “ Anna...”
Aku tersentak kaget mendengar panggilan ibu. Segera aku berlari menuju kamar ibu. Ibu sedang sakit. Bagaimana tega aku meninggalkannya sendiri???
                “ Iya bu,,, Anna di sini. Di samping ibu,”ucapku lirih. Kupegang tangan ibu. Aku sangat menyayanginya. Sangat...............
                “ Anna, jika kamu akan pergi dan bekerja di sana, pergilah.... ibu tak akan melarangmu... ibu akan sangat bangga sekali jika kamu bisa berada di antara orang-orang seperti mereka. Ibu akan sangat bangga Anna....” aku menitikkan air mata. Dadaku terasa sesak sekali.
                “ Lalu bagaimana dengan ibu?? Ibu sedang sakit seperti ini. Anna tak tega meninggalkan ibu dalam keadaan seperti ini. Anna ingin di sini, merawat ibu..”
                “ Ibu tidak apa-apa..uhuk uhuk.... ibu akan baik-baik saja, Nduk!!!!” Ibu mengusap kepalaku dengan lembut. Aku mana tega meninggalkan ibu??? Aku takut kahilangannya...
                “ Anna, kau di sana mengemban tugas yang mulia. Ibu sangat berharap kamu bisa menjadi orang besar yang bisa membuat ibu bangga dan menjadi orang tua yang tidak gagal dalam mendidik anaknya!”
                “ Tapi berat bagi Anna meninggalkan ibu..!”
                “ Di sini kan masih ada adikmu, Syifa.. Dia bisa membantu merawat ibu.. sudahlah Anna.. pergilah!!! Ibu akan ikhlas atas semua ini..” Aku terisak di pangkuan ibu. Aku tak bisa meninggalkannya. Terasa berat sekali... sungguh Ya Rabb... kuatkan aku!!!!
                Jumat pagi aku sudah bersiap untuk berangkat ke Pondok An Nur. Pondok yang juga sekaligus sekolah. Di sini siswa-siswinya tidak hanya belajar tentang agama islam saja, tetapi juga pelajaran umum seperti sekolah yang lain. Namun sayangnya baru ada tingkat SMK saja.
                “ Ibu, Anna pamit dulu. Doakan Anna agar Anna bisa memberikan yang terbaik untuk semuanya. Juga bisa menjadi seperti yang Ibu inginkan.”
                “ Iya Anna... Ibu selalu berda untukmu!”
                “ Syifa, jagain Ibu yah??? Rawat ibu dengan baik. Mbak berangkat dulu ya??”
                “ Iya Mbak. Syifa akan menjaga ibu dengan baik seperti pesan Mbak Anna,” Syifa mencium tanganku.
                “ Anna berangkat, Bu. Assalamu’alaikum....” Aku menyalami tangan halus Ibu dan menciumnya.
                “ Wa’alaikumsalam.. Hati-hati di jalan ya Nduk?”
                Aku memantapkan hatiku melangkah menuju terminal. Tak lama aku menunggu, aku sudah menaiki angkot yang akan membawaku menuju Pondok An Nur. Sekitar 30 menit lamanya aku termenung sendiri dalam angkot hingga aku sampai di depan Pondok An Nur. Aku turun dan segera memasuki pondok.
                Enam bulan sudah aku di sini. Menjadi pengurus tetap SMK sekaligus Sie. Keamanan pondoknya. Rasanya aku sudah rindu sekali dengan Ibu dan Syifa. Sudah sembuhkah ibu???
                Tengah malam aku terbangun dari mimpi yang serasa nyata di depanku. Ibu meninggal... aku beristighfar dan berlari menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Ku tunaikan shalat tahajud untuk menentramkan hatiku. Aku memohon agar Allah selalu menjaga Ibu dan Syifa.
                “ Kriiiiiiiiiiiiiiiiiing...” telepon kantor berbunyi dengan nyaring.
                “ Assalamu’alaikum... “ ku angkat telepon dengan hati yang tak menentu.
                “ ya.. bagaimana bu? Ada yang bisa saya bantu?” sepertinya aku mengenal suara ini..
                “ apa saya bisa berbicara dengan Anna Aniqah?” ucap ibu di seberang sana.
                “ Iya Bu, saya Anna Aniqah. Ibu siapa?”
                “saya Bu Mirah Anna. Saya mau mengabarkan kalau Ibu kamu meninggal tadi pagi jam 8..”
                Degg.............. sekitarku terasa gelap. Ibu........... mimpi tadi malam....
                “ Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.... terima kasih Bu Mirah. Saya akan segera pulang,” aku tak kuat menahan tangisku.
                “ Ya sudah, nanti biar di jemput Pak Sidiq ya An?? Biar beliau sekalian yang meminta izin kepada Pak Kyai.”
                “ Baik Bu. Anna siap-siap dulu.”
                “ Kamu yang tabah ya Nduk... Wassalamu’alaikum..”
                “ Iya Bu, Wa’alaikumsalam.” Bu Mirah menutup teleponnya. Aku meletakkan gagang telepon itu. Tubuhku rasanya lemas tak berdaya. Ibu.... kenapa engkau pergi Ibu????
                Beberapa menit kemudian aku sudah sampai rumah. Di depan rumahku sudah ramai dengan tetanggaku. Di sampiing rumah juga sudah ada tempat untuk memandikan jenazah ibu. Aku masuk ke dalam rumah. Syifa yang pertama kali melihatku langsung berlari memelukku.
                “Mbak... Ibu.....” Syifa menangis dalam dekapanku. Aku pun tak kuasa menahan sedih yang sedari tadi sudah aku simpan rapatt agar aku tetap bisa tegar di hadapan adikku.
                “ Kamu yang sabar ya An?? Kami ibu-ibu akan membantu mu untuk semuanya. Kamu yang sabar dan tenangkan adikmu. Kami akan mengurus jenazah ibumu. Sebentar lagi akan dimandikan,” ucap Bu Mirah.
                “ Iya. Terima kasih Bu Mirah,”aku belum bisa berbicara banyak. Hatiku masih kacau.
                Sekitar pukul 11 siang ibu dimakamkan. Aku dan Syifa turut serta mengantarkan ibu ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Ibu dimakamkan di samping makam bapak. Syifa masih menangis. Aku tahu Syifa sangat sedih. 6 bulan lamanya dia merawat Ibu yang sakit tanpa aku. Aku tahu hatinya masih labil.
                “ Anna, Syifa, ayo pulang. Biarkan Ibu kaliaan beristirahat dengan tenang,”ajak Bu Mirah.
                “ Iya Bu. Kami ingin tinggal di sini sebentar lagi,”ucapku pada Bu Mirah sambil menyeka air mataku.
                “ Ya sudah. Ibu tinggal dulu ya? Tabahkan hatimu juga adikmu.” Aku mengangguk pelan.
                Pemakaman sepi. Tinggal aku dan Syifa yang masih diam memandangi makam Ibu yang masih baru. Ibu begitu cepat engkau menyusul ayah dan meninggalkan aku dan Syifa. Aku belum bisa membuatmu bangga melihat aku berhasil ibu.. jerit hatiku pelan.. Tapi aku tetap harus tegar di depan Syifa dan semua orang. Aku ingin Syifa tetap tegar dan kuat meski sekarang sudah tidak ada ibu lagi.
                “ Syifa, Mbak tahu ini berat buat kamu. Hidup tanpa ada Bapak dan Ibu lagi. Tapi kita tetap harus kuat. Mbak yakin Allah pasti tahu jika memang inilah yang terbaik untuk ibu. Sekarang Syifa harus lebih kuat. Yah??”
                “ Iya Mbak. Syifa tahu. Syifa ngerti.. Semoga Ibu dan Bapak bisa tenang dan damai di sana. Syifa akan selalu berdoa untuk Bapak dan Ibu.”
                Aku mengangguk memandang wajah putih Syifa. Tak mudah baginya untuk menjalani hari kemudian. Tapi aku yakin Syifa akan bisa tumbuh menjadi gadis yang kuat dan mandiri. Karena inilah keinginan terakhir ibu yang tertulis di surat yang ibu titipkan pada Bu Mirah sebelum Ibu pergi.
                Anna janji ibu,,, Anna akan menjadi kakak yang baik untuk Syifa. Anna akan mendampinginya agar kami bisa menjadi seperti yang ibu inginkan.
                Semoga Allah SWT kan memberikan tempat terbaik untuk Ibu dan Bapak....
 

You May Also Like

0 comments

Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. ALhamdulillah