Menjumpai Dandelion

by - 10:30 PM

Sebut saja namanya Dandelion. Dahulu, ia hanya setangkai bunga yang rapuh. Yang sekali saja angin menggoyangkan tangkainya, maka ia akan menggugurkan bening yang ada di sekeliling putiknya. Ia rapuh, sangat rapuh. Namun kehidupannya sentiasa dihiasi ketegaran yang tak pernah pupus. Dengan segala kerendahan hatinya, dengan berat hati ia izinkan anak-anaknya pergi berkelana bersama sang bayu. Meski ia tahu, meski ia paham. Di luar sana, ia tak akan pernah tahu dimana anak-anaknya akan mendapatkan kehidupan yang baru. Di tanah yang suburkah? Di tanah pertanian dengan zat hara dan air yang mencukupikah? Atau justru di tepi jurang yang sangat terjal?
Ia menangis, namun ia tetap berdoa. Karena baginya, Tuhan tak pernah salah memilihkan jalan. Ia adalah Sang Sutradara terbaik. Ia selalu yakin, dimanapun kelak anak-anaknya akan bertumbuh, mereka akan bisa lebih tangguh dari dirinya. Doanya tak pernah berhenti, hingga ia menyadari, siklus hidupnya hanya sekejap saja. Takdir membawanya kembali kepada Sang Pemberi Kehidupan. Tugasnya menghimpun anak-anaknya sudah usai. Kini ia hanya mampu melihat dari jauh perjuangan anak-anaknya menghadapi badai kehidupan yang dulu pernah ia alami jua.
Begitulah kehidupan kita. Manusia hidup dengan jatah waktunya masing-masing yang telah ditetapkan sejak zaman azali, masa di mana segalanya belum diciptakan. Kita sudah memiliki jalan cerita, kapan kita dilahirkan, dengan siapa kita akan menikah, rezeki kita seperti apa, hingga kapan saatnya kita kembali kepadaNya. Terkadang, kita menyadari hal ini, namun ada saatnya kita juga lupa, hingga kadang terlena akan kehidupan di dunia. Sedih dan bahagia, adalah variasi kehidupan. Dari sanalah tercipta ujian yang Allah jadikan tolak ukur dimana kita bisa menempatkan sabar dan syukur dalam perjalanan hidup kita.
Manusia mungkin mengerti, namun terlalu banyak dari kita yang tidak memahami hakikat dari kehidupan ini.
Maka belajarlah dari dandelion ini, meski tak banyak, meski ia terlihat sangat rapuh, namun darinya kita belajar, seberat apapun ujian kehidupan ini, sudah sepantasnya tetap kita perjuangkan. Hingga Allah tepati janjiNya untuk hamba-hambaNya yang tetap berusaha dalam ketaatan... :)

You May Also Like

0 comments

Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. ALhamdulillah