Jangan Libatkan Rasa

by - 10:42 AM




Pucuk cemara meruntuhkan embun di sejuknya pagi. Menggamit subuh yang tergantikan dengan dhuha. Kicau burung memecah sunyi ketika mentari mulai berkilau. Terpaannya membangunkan mata yang sedari tadi masih terpejam.
Farah menutup mushaf kecil yang sedari tadi dibacanya. Rangkaian ayat Ar Rahman menyejukkan batinnya sejak subuh tadi. Jejak air mata masih tertinggal di pelupuk matanya. Wajahnya sayu. Ia segera beranjak dan melipat mukenanya.
Mentari sudah naik sepenggalah. Pertanda waktu dhuha sudah menjelang. Farah hanya diam, termangu di depan jendela. Masih haruskah kusimpan rasa yang sama? Kurasa ini salah! Farah mendesah. Ia seperti ingin menghempaskan beban yang menggunung di pundaknya.

"Dik Farah, sudah selesai dhuha dan tilawah?"

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel yang digenggam Farah. Dari Mas Luthfi. Lagi-lagi Farah mendesah. Ia enggan untuk membalas pesan singkat itu. Sebagai gantinya ia keluar dari kamar dan melangkahkan kakinya di sebuah kebun strawberry di samping rumahnya.
"Nduk, bantu ibu masak dulu. Panen strawberry nya nanti agak siangan aja," ujar Ibu dari dapur. Farah menurut dan masuk ke dapur.
"Masak apa bu hari ini?"
"Bapak lagi pengin makan gudangan. Itu kubis sama wortelnya diiris dulu. Ibu mau buat bumbunya," kata ibu sambil meracik bumbu untuk gudangan.
"Sudah diparut kelapanya bu?"
"Ya belum. Nanti aja ibu yang marut. Kamu iris sayurnya aja." Farah menurut. Ia segera mengiris kubis dan wortel lalu merebusnya. Segala kesibukan dapur pagi itu sedikit bisa meringankan pikirannya. Sampai ia melupakan sms dari Mas Luthfi.
"Nduk, ini hari libur to? Nanti bantu bapak ke kelurahan. Ada proposal kegiatan bulan ini yang harus diselesaikan. Nanti bantu bapak ya?" ujar bapak sambil menyelesaikan makanannya. Farah mengangguk lesu. Hari ini memang jatahnya untuk libur. Tapi baginya, libur atau tidak sama saja. Pikirannya tak pernah bisa relax.
"Farah, ibu perhatikan dari tadi pagi kok murung terus? Ada apa?" tanya ibu pelan.
"Tidak apa-apa bu. Cuma sedikit capek saja. Soalnya kemarin kios ramai. Jadi ya capek saja bu," kata Farah bohong. Sama sekali tidak ada masalah jika kios ramai atau sepi. Sama saja. Hanya hatinya yang masih bermasalah, dengan Mas Luthfi.
"Atau kamu masih bermasalah dengan keputusan bapak kemarin?" tanya bapak tiba-tiba. Farah terperanjat. Ia tak berani memandang bapak. Ia merasakan sesak menjalari dadanya. Yang meniup halus ke matanya. Farah menahan diri agar tidak menangis.
"Benar yang dikatakan bapak barusan, Farah?" tambah ibu.
"Tidak apa-apa bu. Tidak ada masalah sama keputusan bapak kemarin," jawab Farah parau.
"Kau tidak perlu berbohong Farah. Dari mata kamu bapak bisa melihat. Kamu kecewa sama keputusan bapak," ucap bapak mengeras. Farah kaget. Batinnya menangis pedih. Kali ini ia sudah tidak mampu menyembunyikan rasa sakitnya lagi. Air mata meleleh perlahan.
"Sudah, Nduk. Bapak sama ibu cuma ingin yang terbaik buat kamu. Usiamu masih muda. Apa nggak sayang kalau semuda kamu sudah menikah? Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan di luar sana. Selain itu, Mas Luthfi kan jauh. Pun kamu belum pernah bertemu dengannya. Kenapa kamu mau begitu saja ta'aruf dengannya?" tanya ibu. Farah masih tidak bisa berkata-kata. Ia menangis tergugu di hadapan bapak dan ibu. 
"Nduk, sekarang kamu pikir baik-baik. Kamu kenal sama dia baru seminggu. Ketemu belum pernah. Apa yang mau diharapkan?" tanya bapak. Farah mengusap air matanya.
"Pak, bu, Farah memang belum pernah bertemu dengan Mas Luthfi. Kami kenal pun karena ada perantara. Ada Ustadzah Hilda yang mengenalkan kami. Dalam istilah islam namanya ta'aruf. Farah tidak mau lagi pacaran. Farah ingin semua prosesnya sesuai syari'at islam. Sejak kecil bapak dan ibu mendidik Farah dengan landasan islam yang kuat. Mulai beranjak remaja Farah memang mulai melenceng dari ajaran yang sudah pernah bapak ajarkan. Sekarang Farah ingin kembali pada landasan itu. Farab sadar. Sudah berkali-kali Farah mengecewakan bapak dan ibu. Untuk itulah Farah ingin berubah. Farah ingin menjadi anak bapak dan ibu yang manut, yang shalihah. Dan sekarang, ada seseorang yang berniat baik untuk bersilaturrahim dengan kita. Insya Allah agamanya baik, dia shalih pak," tukas Farah panjang lebar. Ia lelah.
"Nduk, sejak seminggu yang lalu ibumu sampai nggak bisa tidur. Kepikiran sama masalahmu ini."
"Farah, sekarang coba pikirkan baik-baik. Bapak sama ibu cuma punya anak satu, kamu. Kalau kamu sudah berkeluarga bapak sam ibu pasti sendiri to? Nanti kalau suami kamu jauh di kota sana, siapa yang mau ngurus bapak sama ibu kalau sudah tua?"
"Farah gak akan melupakan bapak sama ibu," potong Farah cepat.
"Bukan itu maksud ibu. Apa kamu nggak lihat latar belakang keluarga mereka? Kita cuma orang desa. Semua yang didapat hanya cukup untuk sehari-hari saja. Apa iya dia bisa nerima semua ini?" tanya ibu. Farah tak lantas menjawab. Ia masih diam. Membisu.
"Sudahlah, Nduk. Mundur saja. Nanti ada yang lebih baik dari dia," ujar bapak menyudahi pembicaraan. Bapak beranjak ke kamarnya. 
Farah menyeka air matanya dan segera memberesi meja makan. Ibunya sudah lebih dulu ke dapur. Ia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
Farah bergegas ke pancoran di sebelah kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ia tahu sekeras apapun ia meminta, tetaplah Allah yang menentukan segala hal dalam hidupnya. 
Enam rakaat dhuha selesai dijalankannya. Ia mengambil mushaf kecil untuk mengulang kembali hafalan surat Ar Rahman. Beberapa ayat ia terlupa. Mungkin karena ia tidak fokus. Kalamullah tak pernah mau diduakan. Saat kau menghafalnya fokuskan pikiran dan hatimu hanya padaNya. Air mata Farah kembali menitik. Ya Rabb.. Mudahkanlah jalan ini.. Batin Farah pelan.
Selesai mengulang hafalannya, Farah teringat akan pesan singkat dari Mas Luthfi. Ia tahu, ia harus menjelaskan semuanya pada Mas Luthfi akan keputusan bapak.

"Alhamdulillah sudah, Mas."
Farah hanya membalas singkat dan segera mengirimkannya. Tak perlu menunggu lama balasan dari Mas Luthfi.
"Syukurlah. Dik Farah, sudah bilang sama bapak kalau minggu depan mas mau silaturrahim ke situ?"
"Sudah mas. Dan sebelumnya saya minta maaf. Tadi, bapak minta saya untuk mundur dari taaruf ini."
"Kenapa tiba-tiba, Dik? Apa ada sikap atau perbuatan mas yang salah?"
"Tidak mas. Sungguh tidak ada. Bapak hanya tidak ingin saya pergi jauh setelah menikah. Apalagi saya anak tunggal. Nanti setelah menikah saya pasti ikut mas ke kota. Lantas siapa yang nanti akan mengurus bapak sama ibu?"
"Nanti kan bisa pulang dua minggu sekali atau sebulan sekali dik."
"Tidak semudah itu mas. Malang ke Wonosari itu bukan perjalanan yang dekat. Butuh waktu hampir sehari untuk sampai."
"Apa tidak bisa dibicarakan lagi dik? Saya sudah cocok sama kamu."
"Keputusan bapak sudah final, Mas. Maaf."
"Baiklah, nanti akan kusampaikan pada Mama."
"Terima kasih untuk segalanya, Mas. Untuk niat baikmu bersilaturrahim dengan keluargaku. Untuk semua kebaikanmu dan untuk semuanya. Terima kasih."
"Sama-sama, Dik Farah. Terima kasih juga. Pastinya ada hikmah yang bisa kita ambil dari semua ini. Saya pamit. Assalaamu'alaykum warahmatullah."
Farah kembali pilu. Rasa sesak semakin membuatnya sakit. Ia menangis makin dalam. Ia teringat perintah bapak untuk membantu menyelesaikan proposal. Namun ia sudah enggan. Ia merasa sakit atas keputusan bapak. Tidakkah bapak dan ibu memikirkan perasaanku? batin Farah. Ia makin menggugu dalam pilu. Hingga akhirnya ia terlelap.

Waktu terus meluapkan segala keluh kesahnya. Menyembunyikan bahagia dalam mendung dan sebaliknya. Malam pekat menutup senja yang jingga. Farah kembali melirik ponselnya. Tak ada lagi sms yang masuk. Biasanya dari Mas Luthfi. Farah mendesah. Rasa sakitnya masih tersisa. Namun perlahan ia mulai memahami. Tak semua hal yang diinginkannya bisa didapatkan. Termasuk Mas Luthfi. Mungkin dari jejak yang ditinggalkannya kemarin dia bisa mengambil pelajaran. Bahwasannya, masih ada hati-hati yang harus dijaganya. Hati bapak, hati ibu. Tak melulu tentang hatinya. Tak juga mengedepankan rasa. Mungkin salahnya, seharusnya dalam proses ta'aruf tak boleh melibatkan rasa. Karena di sanalah kesucian hati kita tengah diuji olehNya. Mungkin saja, diri ini masih tak cukup layak untuk bisa bersanding dengannya. Mungkin saja, ada hikmah lain yang bisa dijadikan pelajaran untuk selanjutnya. Dan mungkin saja.... yang lain.
Ada kelagaan dalam hati Farah. Dan mungkin memang seperti inilah jalan yang harus ditempuhnya untuk bisa kembali hidup. Allah melimpahkan ujian ini agar aku makin tegar, batin Farah. Seulas senyum kelegaan terpancar dari wajahnya. Ia yakin, sejatinya Allah sangat merindukannya untuk mendekatiNya lagi... Dan lagi.

All messages has been deleted.

You May Also Like

0 comments

Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. ALhamdulillah