Sunset Bersama Rosie

by - 10:25 AM

"Tahukah kamu, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya,
justru cara terbaik melalui hal-hal yang menyakitkan.
Misalkan kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia baru bisa menjelaskan apa yang dia rasakan."

Well, kali ini aku tidak akan membuat sebuah resensi ataupun membuat review. Karena menurutku sudah terlalu banyak resensi yang bagus di berbagai website ataupun blog teman-teman. Aku hanya ingin mengambil beberapa point pentingan yang ingin kujadikan catatan, terutama bagi diriku sendiri. Nah, kali ini aku ingin sedikit mengambil potongan hikmah dari sebuah novel berjudul 'Sunset bersama Rosie'. Sepanjang aku membaca berbagai karya Tere Liye, novel ini masuk dalam daftar novel favoritku, hehe..
Entah sejak kapan, tepatnya aku tak tahu, Tere Liye mampu untuk menyihirku dengan kata-katanya yang tumpah ruah dalam novelnya. Jika kau amati baik-baik, ide pokok dari setiap novel yang diciptakan Tere Liye itu selalu sederhana. Bahkan lebih seperti hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari. Namun Tere Liye mampu untuk mengubahnya menjadi sebuah perjalanan hidup yang sangat menarik. Kalimat-kalimat yang diciptakannya selalu mengandung hikmah. 
Dulu, saat aku masih SMP aku selalu merasa 'sayang' kalau beli buku berjenis novel. Aku yang notabene gampang bosen akan selalu merasa cukup membaca sebuah novel satu kali. Dan aku masih akan ingat ceritanya jika ada yang memintaku menceritakan kembali isi dari novel itu. Tapi sejak membaca buku Tere Liye, aku tak pernah lagi merasa 'sayang'. Karena membacanya berulang kali pun aku tak akan bosan. Bahkan tiap kali membaca ulang, akan ada sebuah pemahaman baru tentang pesan yang ingin disampaikan Tere Liye dalam buku-bukunya. 
Ups, jadi ngelantur kemana-mana yah.. hihi.. 
Dari buku Sunset Bersama Rosie ini, aku lebih mengambil potongan hikmahnya pada sebuah kata penting, 'kesempatan'. Ya, ada banyak hal yang disampaikan oleh Tere Liye dalam novel itu, tapi point penting yang aku tangkap adalah tentang sebuah kesempatan yang ada di depan mata, yang akan diambil atau tidaknya akan selalu memiliki konsekuensinya masing-masing. 
Tegar yang menyimpan rasa selama hampir 20 tahun, harus kehilangan kesempatan untuk memiliki Rosie karena Nathan telah mengambil kesempatan itu hanya dalam waktu 2 bulan. Bisa kau bayangkan bagaimana terpuruknya Tegar yang harus menerima kenyataan tersebut. Lima tahun menyusun kembali kepingan hati yang hancur. Untuk kemudian bangkit dan melupakan segala perasaannya.

"Meskipun tidak bilang, itu tetap cinta, bukan?
Tidak akan berkurang nilainya."

Ya.. Meskipun Tegar tidak pernah menyampaikan apa yang dirasakannya, namun tetap saja itu cinta. Perasaan yang selalu saja mekar, sebab dipupuk selama 20 tahun. Datangnya Sekar pun tetap tak mampu menghapuskan perasaan itu. Meski sekuat apapun Tegar berusaha, menutupinya dengan komitmen baru, maka Sekar hanyalah bayangan Rosie. Raga Tegar mungkin ada bersama Sekar, namun hatinya tetap ada pada Rosie. 
Kemudian ketika takdir Tuhan merenggut Nathan dari Rosie, Tegar lah yang maju pertama kali untuk memastikan Rosie dan keluarganya tetap baik. Bahkan ia harus mengorbankan karirnya yang telah menjulang tinggi untuk merawat anak-anak Rosie; Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili. Cintanya pada Rosie ternyata juga menurun pada anak-anak Rosie. Ketika hati Rosie terguncang hingga akhirnya ia mengalami depresi berat dan harus dirawat di sebuah Shelter di Bali, Tegarlah yang mengurus segala keperluan anak-anak Rosie dan Tegar pula lah yang membuat resor tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Lagi-lagi takdir Tuhan mengubah segalanya, saat Rosie sembuh, Tegar memutuskan untuk kembali pada Sekar, melanjutkan kembali pertunangan yang tertunda 2 tahun lalu. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan Sekar yang harus jatuh bangun menanti Tegar bersama Rosie? Ya, sakit yang berulang kali. Sekar yang membiarkan perasaan itu mekar, memupuknya dalam kebersamaan selama hampir 6 tahun. Meski ia tahu, pada kenyataannya, Tegar tak pernah memutuskan untuk pulang padanya. Hingga akhirnya, saat pernikahan Tegar dan Sekar berlangsung, Rosie dan anak-anaknya datang. Lili, yang hampir 2 tahun tak pernah mau berbicara pada siapapun, mengajarkan kita untuk berani mengambil kesempatan itu, dengan segala konsekuensinya. Saat Tegar dan Sekar berjalan bersama, Lili berlari ke arah Tegar dan menyampaikan keinginannya agar Tegar bisa menjadi ayah bagi Lili dan juga kakak-kakaknya. Tangisan itu akhirnya tumpah, melihat kepolosan dan ketulusan Lili. Seberapapun rasa sakit yang dirasakan Sekar, akhirnya ia menyerah. Betapa Tegar tak akan pernah bisa dipisahkan dari Rosie dan anak-anaknya. -fin
Ahh, kenapa jadi panjang sekali yah ceritanya... hehehe
Itu point yang kuambil dari novel Tere Liye kali ini. Semoga bermanfaat dan memberikan pembelajaran bagi kita... :)


You May Also Like

0 comments

Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. ALhamdulillah