Menagis Semalam
Tadi malam aku menangis sampai sesenggukan. Sudah tidak kuat rasanya aku menahan perasaanku, hingga akhirnya embun bening yang sudah lama kutahan kini tak dapat terbendung lagi dan berurai sudah. Aku tak tahu berapa lama aku menangis. Aku mengirim pesan singkat kepada Ibuku, sekedar menanyakan kabar saja. Sangat rindu rasanya, aku ingin berlari ke pelukannya. Mendekapnya erat dan tak ingin kulepas. Tapi aku harus menahannya untuk beberapa bulan ke depan. Seperti biasa, Ibu akan menanyakan kabarku dan bagaimana dengan pekerjaan baruku? Aku hanya mampu menjawab kabarku baik, Ibu maaf ya, aku terpaksa berbohong sama ibu. Aku hanya ingin menjaga perasaan ibu saja. Aku ingin ibu tidak terlalu memikirkan tentang kesulitanku di sini, karena aku tahu, ibu sudah cukup lelah dengan tekanan batin yang mereka berikan ke ibu. Sabar ya bu, aku memiliki janji kuat di sini, untukmu ibu. Suatu saat nanti, akan ada tempat untuk kita tinggal bersama, yang biasa orang-orang sebut dengan nama 'rumah. Itu janjiku Ibu. Tapi maafkan anakmu yang bandel ini ya Bu? Jika tidak dapat membawamu serta ke perantauan ini dengan segera. Aku ingin kau tetap bersabar. Biarlah Bapak dengan kesibukannya sendiri yang tak mau mendengarkan apa yang aku inginkan. Aku tak ingin meminta macam-macam Bu dari Bapak. Aku cuma ingin kita tinggal satu atap, bukan seperti ini. Kita berjauhan. Tahukah Bu? Ini sangat menyiksa buatku. Aku hanya takut, aku tak memiliki waktu banyak untuk selalu bersama kalian. Senyuman kalian adalah hal terindah yang aku inginkan dalam hidupku. Tak peduli dengan hidupku sendiri yang harus bersusah payah. Aku tak ingin mengeluh, karena mengeluh hanya akan membuatku capek. Biarkan aku tetap semangat ya Bu? Meski harus dengan keterbatasan yang aku miliki. Aku sudah selalu bersyukur atas apa yang aku miliki dalam hidupku. Aku memiliki kalian dalam hari-hariku itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih atas pengorbanan kalian untukku. Sekarang giliranku yang harus bekerja keras untuk kebahagiaan kalian. Maafkan aku, aku harus merangkak dari bawah untuk bisa mencapai puncak. Bukankah seperti itu yang kalian ajarkan padaku? Aku bahagia memiliki kalian.. :)
Aku mencoba mencari tempat sandaran lain. Aku mengirimimu pesan singkat, "Aku.... Bolehkah aku protes pada Tuhanku?" Aku lama menunggumu hingga pukul 23.00. Tak ada jawabmu sama sekali. Aku lelah menunggumu untuk mendengar sedikit saja ceritaku. Aku butuh tempat untuk bercerita. Tapi kau tak ada. Aku benar-benar kecewa. Tapi aku juga tak bisa menyalahkanmu. Aku tahu kamu sudah tidur, mungkin karena pekerjaanmu yang setumpuk itu. Aku kemudian berpikir ulang. Kamu pasti capek dengan aktifitasmu seharian, lalu bagaimana jika aku bercerita padamu? Bukankah akan menambah bebanmu saja? Akhirnya kumatikan saja HP ku. Agar kamu tak menghubungiku. Iya, aku memang sengaja. Aku butuh waktu untuk sendiri kemudian merenung dan mencoba menggali jalan keluar atas masalahku ini.
Hingga akhirnya pukul 3.00 aku terbangun. Aku rindu sujud panjang itu.. Sudah lama aku tak bersua dengannya di sepertiga malam yang sunyi itu. Aku menghabiskan waktu setengah jam untuk bertaqarrub denganNya. Dan rasanya aku merasa jauh lebih baik.
Aku mengaktifkan kembali ponselku. Ada 3 pesanmu masuk. "Kamu kenapa sayang?"Kau terlihat khawatir dari pesan-pesanmu itu. Maaf yaa? Aku sudah membuatmu khawatir. Aku selalu suka saat kamu memanggilku dengan sebutan "Sayang". Terdengar kamu ingin aku selalu terlindungi olehmu. Tak ingin aku sakit, terluka, bahkan sampai menangis. Tapi sayangnya kau tak berhasil melindungiku sepenuhnya, karena aku sudah manangis hingga pagi ini mataku bengkak. Sekali lagi, aku tak ingin menyalahkanmu. Aku tak ingin kamu merasa bersalah karena kau tak ada saat aku butuh seperti tadi malam. Sudahlah, sekarang aku hanya ingin terus memutar otak untuk masalahku ini. Rasanya berat sekali kepalaku setiap kali teringat masalah ini..
Tuhan,, ajarkan aku untuk lebih bersabar dan tegar...:)

0 comments