Aku hanya bisa tersenyum pahit menatapnya. Lelaki paruh baya yang sejak kemarin siang ada di hadapanku. Kulitnya makin menghitam. Menerima tiap sengatan matahari yang ganas. Juga bekas-bekas luka yang sudah tampak mengering. Ahh.. Kau sudah tampak berbeda sekali sekarang. Jauh berbeda sejak kita mulai menginjakkan kaki pertama kali di pulau terbesar di negara kita ini.
Aku masih ingat, saat kau tiba di rumah karena aku merengek, meminta untuk ikut denganmu, meninggalkan ibu dan adik tersayang di seberang sana. Aku juga masih ingat saat kita berpamitan kepada anggota keluarga juga tetangga-tetangga kita yang sudah seperti keluarga sendiri, tanpa terasa air mata itu mengalir dengan sendiri dan sesak yang kurasa saat itu. Yang terpikirkan saat itu hanyalah aku ingin memeluk ibuku untuk waktu yang lama. Tapi hari itu sudah tinggal beberapa jam lagi kita take off. Berat sekali meninggalkan ibu. Aku tak sempat berpamitan dengan si ndut. Adikku yang sangat cerewet ituh. Dan sore harinya aku mendapat pesan singkat dari ibu, si ndut marah-marah karena kita tak sempat berpamitan langsung dengannya. Ia murung hingga malam hari. Dan sejak saat itu, kau akan mulai mengenal arti rindu dan kehilangan ndut...
Hanya butuh waktu dua jam saja, kita sudah berjarak ratusan kilometer. Hanya bisa menatap jauh dari jendela pesawat. Sedih memang. Tapi resikonya harus seperti ini dulu. Untuk sementara waktu, Mih..:) Ada janji yang tersimpan rapi di sini untukmu Mih. Dan itu yang akan selalu menjadi semangatku untuk tetap tegar dan semangat menjalani hari-hariku di sini.
Dan sekarang kita berjauhan lagi, Pak. Kita juga tetap berjarak puluhan kilometer. Bahkan dipisahkan oleh lautan. Aku tak bisa memaksamu untuk tetap di sini. Dan engkau juga tak bisa memaksaku untuk ikut bersamamu di pedalaman sana. Ahh.. Kadang pahit terasa saat aku harus sendiri menjalani rutinitas harianku ini. Tapi aku jauh lebih teriris-iris hatinya saat kita bertemu dan keadaanmu seperti sekarang ini.
Bapak.. Engkau semakin menua saja. Itu pasti, Nduk! Aku banyak belajar darimu. Hanya lewat kegiatanmu saja aku mampu belajar. Belajar untuk tetap sabar. Aku sangat mengagumi kesabaranmu. Sudah sejauh ini keluarga kita melangkah, dengan banyaknya batu kerikil yang menghalangi jalan kita, engkau masih kuat bertahan dan juga menguatkan kita bersama. Tak ada yang aku inginkan lagi selain ingin mengurusmu sampai engkau tua nanti. Tak peduli keadaanku seperti apa aku nantinya, aku hanya ingin engkau bisa menikmati masa tuamu bersama ibu.
Kehidupan ini memang keras. Kita sudah terlanjur dilahirkan. Untuk apa kita mengeluhkan berbagai masalah yang datang menghampiri kita? Bukankah dari masalah itu kita bisa banyak belajar. Mengamati, menelaah, kemudian ambil pelajaran yang terkandung di dalamnya. Sejauh ini yang kuhadapi seperti itu. Masih ada banyak kerikil tajam yang akan menjadi cobaan di setiap jalan kita nantinya. Ada juga banyak tikungan yang nantinya harus kita pilih untuk menjadi jalan kita selanjutnya.
Terima kasih telah menguatkanku hingga aku bisa tetap berdiri meski banyak masalah yang berdatangan kau tetap merangkulku erat hingga aku tak sampai terlempar...
# Dari anakmu yang akan selalu mencintaimu...:)
0 comments